“Masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang rendah.” Kalimat ini begitu sering diulang dalam seminar, pemberitaan media, diskusi pendidikan, bahkan pidato pejabat. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai “kebenaran umum” tanpa pernah mempertanyakan kembali dasar dari pernyataan tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa rendahnya budaya literasi di Indonesia semata-mata disebabkan oleh masyarakat yang enggan membaca.
Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?
Mungkin sudah saatnya kita menggeser cara pandang. Bisa jadi yang sedang dihadapi Indonesia bukanlah krisis minat membaca, melainkan krisis akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas, terjangkau, dan merata. Jika diagnosis awal keliru, maka solusi yang ditawarkan pun berpotensi salah sasaran.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi, “Mengapa orang Indonesia malas membaca?” melainkan, “Apakah masyarakat benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pembaca?”
Mitos “Minat Baca Rendah” yang Terlalu Sering Diulang
Salah satu narasi yang paling sering muncul adalah klaim bahwa Indonesia berada di peringkat bawah dunia dalam hal minat membaca. Bahkan, tidak jarang beredar informasi yang menyebut masyarakat Indonesia hanya memiliki minat baca sebesar 0,001 persen. Angka tersebut telah berulang kali dikutip dalam berbagai forum, meskipun asal-usul dan metodologinya tidak jelas.
Masalahnya, narasi seperti ini perlahan membentuk stigma bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak menyukai membaca. Padahal, berbagai survei internasional menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.
Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) memang menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD (OECD, 2023). Namun, PISA mengukur kompetensi literasi membaca, bukan minat membaca. Rendahnya skor literasi belum tentu berarti masyarakat tidak ingin membaca; bisa saja mereka tidak memperoleh kesempatan belajar membaca secara optimal sejak dini.
Demikian pula survei dari UNESCO yang sering disalahartikan sebagai pengukuran minat baca. Banyak kutipan populer mengenai “minat baca Indonesia terendah di dunia” ternyata tidak memiliki rujukan resmi yang dapat diverifikasi. Kesalahan interpretasi ini terus direproduksi hingga menjadi semacam mitos kolektif.
Alih-alih terus menyalahkan masyarakat, kita perlu bertanya: apakah ekosistem literasi yang tersedia memang sudah cukup mendukung?
Ketika Buku Menjadi Barang Mewah
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, membeli buku mungkin merupakan aktivitas rutin. Toko buku besar tersedia di berbagai pusat perbelanjaan, layanan belanja daring menawarkan ribuan judul, bahkan buku elektronik dapat diunduh hanya dalam hitungan menit.
Namun, kondisi tersebut tidak mencerminkan realitas seluruh Indonesia.
Masih banyak daerah yang memiliki akses terbatas terhadap toko buku, perpustakaan umum, maupun distribusi buku berkualitas. Di sejumlah wilayah, memperoleh buku terbaru membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Harga buku pun sering kali menjadi kendala. Ketika kebutuhan pokok seperti pangan, transportasi, dan pendidikan sudah menyita sebagian besar pendapatan keluarga, membeli buku menjadi prioritas yang mudah dikorbankan.
Di sisi lain, biaya produksi buku di Indonesia relatif tinggi. Harga kertas yang fluktuatif, biaya distribusi antarpulau, dan pasar pembaca yang belum besar menyebabkan harga buku tidak selalu terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, apakah adil jika masyarakat langsung dicap tidak memiliki minat membaca?
Minat membutuhkan kesempatan. Ketika akses terbatas, minat pun sulit berkembang.
Perpustakaan: Masihkah Menjadi Jantung Literasi?
Idealnya, perpustakaan menjadi solusi atas ketimpangan akses terhadap buku. Namun, kualitas perpustakaan di Indonesia masih sangat beragam.
Beberapa perpustakaan modern telah bertransformasi menjadi ruang publik yang nyaman, menyediakan koleksi digital, ruang diskusi, hingga berbagai kegiatan literasi. Sayangnya, masih banyak perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah yang menghadapi keterbatasan koleksi, anggaran, tenaga pustakawan, maupun fasilitas pendukung.
Tidak sedikit siswa yang mengaku jarang mengunjungi perpustakaan karena koleksi bukunya sudah usang atau kurang relevan dengan kebutuhan mereka.
Padahal, pengalaman pertama seseorang terhadap buku sering kali dimulai dari perpustakaan. Jika pengalaman tersebut membosankan, jangan heran apabila kebiasaan membaca tidak tumbuh secara alami.
Membangun budaya membaca bukan sekadar menambah jumlah buku, melainkan juga menciptakan ruang yang membuat masyarakat merasa nyaman untuk membaca.
Kita Sebenarnya Rajin Membaca—Hanya Medianya Berubah
Ada paradoks menarik dalam kehidupan digital saat ini.
Di satu sisi, masyarakat sering disebut malas membaca. Di sisi lain, rata-rata orang Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap hari menatap layar ponsel.
Apa yang mereka lakukan?
Mereka membaca pesan WhatsApp, artikel berita, unggahan media sosial, ulasan produk, komentar video, forum diskusi, hingga berbagai bentuk informasi digital lainnya. Aktivitas tersebut tetap merupakan kegiatan membaca, meskipun bentuk dan kualitasnya berbeda dengan membaca buku.
Artinya, persoalan sebenarnya bukan bahwa masyarakat tidak membaca, melainkan apa yang mereka baca.
Algoritma media sosial cenderung mendorong konsumsi informasi yang singkat, cepat, dan terus berganti. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) mulai tergeser oleh kebiasaan memindai informasi secara cepat (skimming).
Maryanne Wolf (2018) mengingatkan bahwa perubahan pola membaca digital dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis, refleksi, dan empati apabila tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca teks panjang.
Karena itu, tantangan literasi hari ini bukan sekadar meningkatkan jumlah pembaca, tetapi juga menjaga kualitas pengalaman membaca.
Literasi Tidak Dimulai dari Kampanye, Melainkan dari Rumah
Sering kali solusi yang ditawarkan pemerintah atau berbagai lembaga berupa kampanye gemar membaca. Poster dipasang, lomba diadakan, dan slogan diperbanyak.
Semua itu penting.
Namun, budaya membaca tidak lahir dari slogan.
Budaya membaca tumbuh melalui kebiasaan yang dibangun setiap hari di lingkungan keluarga. Anak-anak yang terbiasa melihat orang tuanya membaca cenderung menganggap membaca sebagai aktivitas normal. Sebaliknya, apabila rumah tidak menyediakan buku dan tidak pernah ada waktu khusus untuk membaca bersama, akan sulit menanamkan kebiasaan tersebut hanya melalui program sekolah.
Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kemampuan literasi anak sejak usia dini (OECD, 2023).
Dengan kata lain, investasi terbesar dalam budaya membaca bukan hanya membangun perpustakaan megah, tetapi juga menciptakan rumah yang akrab dengan buku.
Jangan Hanya Menuntut Pembaca, Perkuat Ekosistemnya
Dalam banyak diskusi literasi, tuntutan hampir selalu diarahkan kepada masyarakat.
“Masyarakat harus lebih rajin membaca.”
Kalimat ini terdengar benar, tetapi belum tentu adil.
Mengapa kita jarang bertanya apakah jumlah toko buku sudah cukup? Apakah penerbit daerah memperoleh dukungan yang memadai? Apakah penulis lokal memiliki ruang untuk berkembang? Apakah perpustakaan sekolah mendapatkan anggaran yang layak? Apakah guru memiliki waktu untuk membimbing siswa membaca di luar target kurikulum?
Budaya membaca merupakan hasil dari sebuah ekosistem.
Apabila salah satu komponen melemah, seluruh rantai literasi ikut terdampak.
Karena itu, membangun budaya membaca tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Negara, sekolah, keluarga, penerbit, penulis, komunitas literasi, media, dan sektor swasta memiliki tanggung jawab yang sama besarnya.
Era Digital Membuka Peluang Baru
Meskipun sering dianggap sebagai penyebab menurunnya minat baca, teknologi digital sebenarnya juga menghadirkan peluang besar.
Perpustakaan digital memungkinkan masyarakat mengakses ribuan buku tanpa harus datang ke gedung perpustakaan. Buku elektronik membuat distribusi bacaan menjadi lebih cepat dan murah. Platform membaca daring bahkan memberi kesempatan bagi penulis baru untuk menjangkau pembaca tanpa melalui jalur penerbitan konvensional.
Fenomena komunitas buku di media sosial menunjukkan bahwa diskusi literasi justru semakin hidup. Banyak anak muda saling berbagi rekomendasi buku, membuat ulasan, hingga membentuk klub membaca virtual.
Hal ini membuktikan bahwa teknologi bukan musuh literasi.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi digunakan untuk memperluas akses terhadap bacaan berkualitas, bukan sekadar memperbanyak konsumsi konten singkat.
Saatnya Mengubah Cara Mengukur Literasi
Selama ini, ukuran keberhasilan literasi sering kali berhenti pada jumlah buku yang dibaca atau banyaknya koleksi perpustakaan.
Padahal, ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh kesempatan membaca secara setara.
Seseorang yang tinggal di kota besar dengan akses toko buku, internet cepat, dan perpustakaan modern tentu memiliki peluang yang berbeda dibandingkan warga di daerah terpencil yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh satu buku.
Jika aksesnya tidak setara, maka membandingkan hasil akhirnya juga menjadi kurang adil.
Karena itu, indikator literasi ke depan seharusnya tidak hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga mengukur pemerataan akses terhadap bahan bacaan, kualitas perpustakaan, ketersediaan buku lokal, hingga keterjangkauan harga buku.
Penutup: Mungkin yang Perlu Kita Perbaiki Bukan Minatnya
Mudah mengatakan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Jauh lebih sulit mengakui bahwa sistem literasi kita masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Bisa jadi masyarakat sebenarnya ingin membaca lebih banyak, tetapi terbentur harga buku yang mahal. Bisa jadi anak-anak sebenarnya menyukai cerita, tetapi sekolah tidak memiliki perpustakaan yang menarik. Bisa jadi orang tua ingin membacakan buku untuk anaknya, tetapi koleksi bacaan anak di daerah mereka sangat terbatas.
Jika demikian, persoalannya bukan semata-mata krisis membaca.
Yang sedang kita hadapi adalah krisis kesempatan untuk membaca.
Mengubah cara pandang ini bukan berarti menafikan pentingnya menumbuhkan minat baca. Sebaliknya, ini mengingatkan kita bahwa minat tidak tumbuh di ruang hampa. Ia berkembang ketika ada buku yang mudah diperoleh, perpustakaan yang hidup, keluarga yang mendukung, sekolah yang memberi ruang, serta kebijakan publik yang berpihak pada literasi.
Maka, daripada terus mengulang narasi bahwa “orang Indonesia tidak suka membaca”, mungkin lebih bijak jika kita mulai bertanya: sudahkah kita menciptakan lingkungan yang membuat masyarakat ingin membaca?
Pertanyaan itulah yang layak menjadi bahan diskusi bersama. Sebab, jika akses literasi berhasil diperluas tetapi kebiasaan membaca tetap rendah, kita memang menghadapi krisis minat baca. Namun, jika akses masih timpang, bukankah menyalahkan masyarakat justru terlalu menyederhanakan persoalan?
Daftar Pustaka
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2024. Perpustakaan Nasional RI.
Wolf, M. (2018). Reader, come home: The reading brain in a digital world. Harper.
World Bank. (2018). World development report 2018: Learning to realize education’s promise. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-1096-1
