Repositori

Pengaruh BookTok dan Bookstagram terhadap Kebangkitan Industri Penerbitan Buku

Pengaruh BookTok dan Bookstagram terhadap Kebangkitan Industri Penerbitan Buku

Beberapa tahun lalu, banyak orang memprediksi bahwa media sosial akan menjadi “musuh” buku. Kehadiran platform seperti Instagram, TikTok, YouTube Shorts, hingga berbagai aplikasi video pendek dianggap akan mengalihkan perhatian masyarakat dari aktivitas membaca. Logikanya sederhana: jika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam menonton video berdurasi kurang dari satu menit, kapan lagi ia memiliki waktu untuk menyelesaikan sebuah novel setebal 400 halaman?

Prediksi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.

Alih-alih mematikan budaya membaca, media sosial justru melahirkan fenomena baru yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Muncul komunitas pembaca yang sangat aktif di platform digital melalui Bookstagram di Instagram dan BookTok di TikTok. Dua komunitas ini bukan hanya membicarakan buku, tetapi juga mampu mengubah nasib sebuah karya. Novel yang sebelumnya nyaris terlupakan dapat kembali menjadi buku terlaris hanya karena direkomendasikan oleh seorang kreator konten dengan jutaan pengikut.

Fenomena ini menghadirkan pertanyaan menarik: apakah BookTok dan Bookstagram benar-benar menjadi penyelamat industri penerbitan buku, atau justru menciptakan budaya membaca yang semakin dangkal dan mengikuti tren?

Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. BookTok dan Bookstagram telah membawa energi baru bagi dunia literasi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan yang perlu dicermati oleh penulis, penerbit, dan pembaca.

Ketika Algoritma Menjadi “Penjaga Gerbang” Baru Dunia Buku

Dulu, perjalanan sebuah buku menuju pembaca sangat bergantung pada toko buku, resensi di surat kabar, ulasan kritikus sastra, atau rekomendasi pustakawan. Prosesnya relatif panjang dan sering kali hanya melibatkan sedikit pihak yang memiliki otoritas dalam menentukan buku mana yang layak diperhatikan.

Kini, mekanisme tersebut berubah drastis.

Seseorang yang mengunggah video berdurasi 30 detik sambil menangis setelah membaca sebuah novel dapat memengaruhi ribuan, bahkan jutaan orang untuk membeli buku yang sama. Tidak diperlukan promosi mahal atau kampanye pemasaran besar-besaran. Cukup satu video yang viral, sebuah buku dapat langsung masuk daftar buku terlaris.

Dalam konteks ini, algoritma media sosial telah mengambil alih sebagian peran yang dahulu dimainkan oleh media massa dan kritikus sastra. Popularitas buku kini tidak hanya ditentukan oleh kualitas isi, tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan percakapan di ruang digital.

Perubahan ini membawa peluang sekaligus risiko.

Kebangkitan Buku Berkat Komunitas Digital

Sulit dimungkiri bahwa BookTok dan Bookstagram telah memberi napas baru bagi industri penerbitan.

Banyak penerbit melaporkan peningkatan penjualan terhadap judul-judul yang viral di media sosial. Menariknya, tidak sedikit buku yang mengalami kebangkitan setelah bertahun-tahun beredar di pasaran. Novel-novel lama yang sempat berhenti dicetak kembali diminati karena direkomendasikan oleh komunitas pembaca digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi dari sesama pembaca sering kali lebih efektif dibandingkan iklan konvensional.

Rekomendasi yang muncul dari pengalaman membaca terasa lebih autentik. Ketika seseorang mengatakan, “Buku ini membuat saya menangis sepanjang malam,” pembaca lain cenderung lebih percaya dibandingkan ketika membaca slogan promosi dari penerbit.

Dalam ilmu pemasaran, fenomena ini dikenal sebagai electronic word-of-mouth (eWOM), yaitu penyebaran rekomendasi melalui media digital yang memiliki pengaruh besar terhadap keputusan konsumen (Cheung & Thadani, 2012).

Buku, yang selama ini dianggap sebagai produk budaya yang “sunyi”, kini menjadi bagian dari percakapan publik yang dinamis.

Membaca Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Bookstagram menghadirkan dimensi baru dalam dunia literasi.

Foto rak buku yang tertata rapi, secangkir kopi, pencahayaan hangat, dan sampul buku yang artistik menjadikan aktivitas membaca tampak menarik secara visual. Buku tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup.

Sebagian orang mengkritik fenomena ini sebagai bentuk estetisasi membaca. Namun, bukankah tidak ada yang salah ketika seseorang tertarik membaca karena melihat buku tampil menarik?

Justru di sinilah kekuatan media sosial bekerja.

Generasi muda yang sebelumnya jarang memasuki toko buku kini mengenal berbagai judul melalui unggahan kreator favorit mereka. Mereka mengikuti tantangan membaca, berdiskusi tentang karakter fiksi, hingga saling bertukar rekomendasi bacaan.

Membaca menjadi aktivitas sosial, bukan lagi kegiatan yang identik dengan kesendirian.

Namun, Apakah Semua Buku Memiliki Kesempatan yang Sama?

Di balik keberhasilan BookTok dan Bookstagram, muncul persoalan yang jarang dibahas.

Algoritma media sosial cenderung memperkuat apa yang sudah populer. Buku yang mulai viral akan semakin sering muncul di beranda pengguna, sementara ribuan buku lain yang mungkin memiliki kualitas sama baiknya tetap tenggelam tanpa perhatian.

Akibatnya, pasar buku menjadi semakin terkonsentrasi pada sejumlah judul tertentu.

Fenomena ini menguntungkan sebagian penulis dan penerbit, tetapi dapat menyulitkan penulis baru yang belum memiliki basis pembaca atau kemampuan promosi digital.

Dengan kata lain, demokratisasi promosi melalui media sosial ternyata tetap dipengaruhi oleh logika algoritma.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar membaca berdasarkan kualitas buku, atau hanya mengikuti apa yang sedang viral?

Ketika Popularitas Tidak Selalu Sejalan dengan Kualitas

Tidak dapat dipungkiri bahwa viralitas tidak selalu identik dengan kualitas.

Ada buku yang menjadi terkenal karena menawarkan gagasan yang luar biasa. Namun, ada pula yang viral semata-mata karena adegan tertentu, kutipan yang emosional, atau kontroversi yang menyertainya.

Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Dalam dunia hiburan, musik, dan film, popularitas memang tidak selalu menjadi ukuran mutu.

Namun, ketika logika tersebut masuk ke dunia literasi, kita perlu berhati-hati.

Jika algoritma lebih menyukai konten yang dramatis dan emosional, bukan tidak mungkin penulis mulai terdorong menyesuaikan karya mereka agar lebih mudah viral daripada lebih bermakna.

Apakah ini buruk?

Belum tentu.

Tetapi kondisi tersebut patut menjadi bahan refleksi bagi seluruh ekosistem penerbitan.

Industri Penerbitan Dipaksa Beradaptasi

BookTok dan Bookstagram juga mengubah strategi penerbit.

Kini, keberhasilan sebuah buku tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas penyuntingan atau jaringan distribusi. Penerbit harus memahami cara kerja media sosial, membangun hubungan dengan kreator konten, serta merancang kampanye digital yang mampu memancing percakapan.

Banyak penerbit mulai mengirimkan advance review copy kepada influencer buku sebelum tanggal terbit. Peluncuran buku juga semakin sering disertai siaran langsung, diskusi daring, atau tantangan membaca di media sosial.

Perubahan ini menunjukkan bahwa industri penerbitan tidak lagi dapat mengandalkan pola pemasaran konvensional.

Mereka harus hadir di ruang tempat pembaca berada.

BookTok Menghidupkan Kembali Minat Membaca

Salah satu dampak paling positif dari fenomena ini adalah meningkatnya minat membaca di kalangan generasi muda.

Data dari berbagai laporan industri menunjukkan bahwa rekomendasi melalui TikTok telah mendorong peningkatan penjualan buku cetak, khususnya kategori fiksi dewasa muda (young adult) dan romansa (NPD BookScan, 2023).

Fenomena ini membantah anggapan bahwa generasi digital tidak lagi tertarik pada buku.

Yang berubah bukanlah keinginan membaca, melainkan cara mereka menemukan bacaan.

Dahulu seseorang datang ke toko buku untuk mencari rekomendasi. Kini mereka membuka TikTok atau Instagram.

Perubahan saluran informasi tidak berarti hilangnya budaya membaca.

Tantangan Baru: Membaca demi Konten

Meski demikian, ada kecenderungan lain yang patut diperhatikan.

Media sosial mendorong budaya berbagi. Banyak pembaca terdorong mengunggah ulasan, foto, atau video setiap kali menyelesaikan buku.

Hal ini tentu positif karena memperluas diskusi literasi.

Namun, pada saat yang sama muncul kekhawatiran bahwa sebagian orang mulai membaca demi menghasilkan konten, bukan demi memahami isi buku.

Muncul tantangan membaca puluhan buku dalam setahun, perlombaan mempercantik rak buku, hingga tekanan untuk selalu mengikuti judul yang sedang populer.

Padahal, esensi membaca bukanlah jumlah buku yang selesai dibaca atau banyaknya unggahan yang dibuat.

Membaca adalah proses berdialog dengan gagasan.

Jika aktivitas tersebut berubah menjadi sekadar mengejar validasi media sosial, kita perlu bertanya kembali apakah tujuan literasi masih tetap terjaga.

Yang Dibutuhkan Adalah Keseimbangan

Menurut saya, BookTok dan Bookstagram bukan ancaman bagi dunia buku.

Sebaliknya, keduanya merupakan peluang yang luar biasa.

Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesadaran kritis.

Penerbit perlu tetap berani menerbitkan karya-karya berkualitas meskipun tidak selalu mudah viral. Penulis tidak perlu mengorbankan integritas demi mengejar algoritma. Kreator konten dapat memperluas rekomendasi agar tidak hanya berpusat pada buku-buku yang sedang tren.

Yang terpenting, pembaca juga perlu berani keluar dari “gelembung algoritma”. Sesekali membaca buku yang tidak viral justru dapat membuka perspektif baru yang lebih kaya.

Penutup: Apakah Algoritma Akan Menentukan Masa Depan Literasi?

BookTok dan Bookstagram telah membuktikan bahwa media sosial tidak selalu menjadi lawan bagi budaya membaca. Sebaliknya, keduanya berhasil menghadirkan komunitas literasi yang aktif, inklusif, dan mampu menghidupkan kembali minat terhadap buku, terutama di kalangan generasi muda.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, kita juga dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar. Jika algoritma semakin menentukan buku apa yang kita lihat, ulasan apa yang kita baca, dan judul apa yang kita beli, apakah pilihan membaca kita masih sepenuhnya lahir dari rasa ingin tahu, atau mulai dibentuk oleh sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian kita?

Barangkali masa depan industri penerbitan bukan lagi ditentukan semata oleh kualitas naskah atau kekuatan promosi, melainkan oleh kemampuan seluruh ekosistem literasi—penulis, penerbit, kreator konten, dan pembaca—untuk memanfaatkan media sosial tanpa kehilangan nilai utama membaca: memperluas wawasan, melatih berpikir kritis, dan membangun empati.

Pada akhirnya, BookTok dan Bookstagram hanyalah alat. Dampaknya akan bergantung pada cara kita menggunakannya. Jika dimanfaatkan untuk memperluas akses terhadap bacaan berkualitas, keduanya dapat menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam kebangkitan industri penerbitan. Namun, jika hanya mengejar viralitas, kita berisiko membangun budaya membaca yang dangkal dan cepat terlupakan.

Lalu, bagaimana menurut Anda? Apakah BookTok dan Bookstagram telah menjadi jembatan yang membawa lebih banyak orang mencintai buku, atau justru membuat pilihan bacaan kita semakin dikendalikan oleh algoritma? Diskusi inilah yang layak terus kita hidupkan demi masa depan literasi Indonesia.

Daftar Pustaka

Cheung, C. M. K., & Thadani, D. R. (2012). The impact of electronic word-of-mouth communication: A literature analysis and integrative model. Decision Support Systems, 54(1), 461–470. https://doi.org/10.1016/j.dss.2012.06.008

Murray, S. (2021). The digital literary sphere: Reading, writing, and selling books in the internet era. Johns Hopkins University Press.

NPD BookScan. (2023). U.S. print book market annual review 2023. Circana BookScan.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2021). 21st-century readers: Developing literacy skills in a digital world. OECD Publishing.

Striphas, T. (2015). Algorithmic culture. European Journal of Cultural Studies, 18(4–5), 395–412. https://doi.org/10.1177/1367549415577392

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *