Repositori

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI TTIINGKAT SMP

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI TTIINGKAT SMP

Oleh : Rasdi & Sri Ulfanita

Pendidikan matematika memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan kreatif pada siswa. Melalui pembelajaran matematika, siswa tidak hanya belajar menghitung atau memahami rumus, tetapi juga belajar bagaimana menganalisis suatu masalah dan menemukan solusi yang tepat. Kemampuan tersebut sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari karena matematika berkaitan erat dengan berbagai aktivitas manusia. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika harus mampu membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi agar dapat menghadapi tantangan perkembangan zaman. Sejalan dengan itu, matematika juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan sistematis siswa (Siswanto & Meiliasari, 2024).

Salah satu kemampuan yang sangat penting dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematis. Kemampuan ini menjadi indikator utama keberhasilan pembelajaran matematika karena melalui kemampuan pemecahan masalah, siswa dapat memahami persoalan, menyusun strategi penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, serta mengevaluasi hasil yang diperoleh. Menurut Panjaitan (2023), kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan menerapkan pengetahuan sebelumnya pada situasi baru yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi. Sejalan dengan pendapat tersebut, kemampuan pemecahan masalah merupakan elemen penting dalam kurikulum matematika karena dianggap sebagai jantung dari pembelajaran matematika (Siswanto & Meiliasari, 2024).

Namun, kenyataannya, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional, terutama dalam menyelesaikan soal yang membutuhkan penalaran dan pemecahan masalah kontekstual (OECD, 2023). Banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita, menentukan strategi penyelesaian, dan menarik kesimpulan dari jawaban yang diperoleh. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru, sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran (Nasution, 2026).

Dominannya pembelajaran konvensional menyebabkan siswa terbiasa menerima informasi secara langsung dari guru tanpa diberi kesempatan untuk menemukan konsep secara mandiri. Pembelajaran yang berpusat pada guru menyebabkan siswa bergantung pada penjelasan guru sehingga kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menjadi rendah (Soniawati, 2022). Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah matematis dengan lebih baik.

Salah satu model pembelajaran yang dianggap efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Problem-Based Learning (PBL). Model pembelajaran ini berpusat pada pemberian masalah nyata yang harus diselesaikan siswa melalui proses berpikir kritis, diskusi, dan kerja sama kelompok. Problem-Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan matematis siswa, termasuk kemampuan pemecahan masalah matematis (Siddik et al., 2025). Selain itu, PBL dianggap efektif karena siswa dapat melakukan pencarian solusi dan pemecahan masalah secara mandiri sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (Zetriuslita & Riyanti, 2026). Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP di Indonesia yang masih tergolong rendah akibat dominannya pembelajaran yang berpusat pada guru dapat ditingkatkan melalui penerapan model Problem-Based Learning (PBL) yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemahaman konsep, dan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran matematika.

Dalam konteks yang lebih luas, kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu kompetensi esensial yang harus dimiliki siswa. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif menghitung, tetapi juga melibatkan proses mendalam dalam memahami masalah, menentukan strategi penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Kemampuan pemecahan masalah matematis membantu siswa mengembangkan pola pikir yang logis dan sistematis (Siswanto & Meiliasari, 2024). Selain itu, kemampuan ini didefinisikan sebagai kapasitas untuk menerapkan pengetahuan sebelumnya pada situasi baru yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi (Panjaitan, 2023).

Kemampuan pemecahan masalah matematis terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan mengevaluasi hasil penyelesaian. Tahapan tersebut sesuai dengan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya yang meliputi memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil penyelesaian (Polya dalam Nasution & Siregar, 2026). Dalam proses pembelajaran, siswa harus mampu memahami informasi yang terdapat pada soal, menentukan metode penyelesaian yang tepat, kemudian menyelesaikan masalah secara sistematis. Menurut Siswanto & Meiliasari (2024), langkah-langkah pemecahan masalah tersebut penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa dalam menyelesaikan soal matematika.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan pemecahan masalah matematis sangat dibutuhkan. Misalnya, siswa menggunakan kemampuan matematika ketika menghitung pengeluaran dan pemasukan uang, menentukan jarak tempuh perjalanan, atau menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data dan perhitungan. Kemampuan pemecahan masalah membantu siswa mengambil keputusan secara logis dan sistematis dalam kehidupan sehari-hari (Panjaitan, 2023). Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah matematis tidak hanya penting dalam pembelajaran di sekolah, tetapi juga penting untuk kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hal tersebut, kemampuan pemecahan masalah matematis dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan pembelajaran matematika. Jika siswa mampu menyelesaikan masalah matematika dengan baik, maka pembelajaran dapat dikatakan berhasil karena siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan konsep matematika dalam berbagai situasi.

Meskipun peranannya krusial, rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Banyak siswa mengalami kesulitan saat dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan penalaran dan analisis mendalam. Kesulitan ini mengindikasikan bahwa siswa belum terbiasa menyelesaikan soal yang bersifat kontekstual maupun non-rutin. Realitas ini diperkuat oleh studi internasional seperti PISA yang menunjukkan bahwa performa siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional dalam hal pemecahan masalah (Nasution & Siregar, 2026).

Salah satu faktor utama penyebab rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Dalam pembelajaran konvensional, guru lebih banyak menjelaskan materi dan memberikan contoh soal, sedangkan siswa hanya mendengarkan dan meniru cara penyelesaian yang diberikan. Akibatnya, siswa menjadi pasif dan kurang terlatih untuk berpikir kritis maupun menemukan solusi secara mandiri. Siswa yang terbiasa dengan pembelajaran konvensional cenderung bergantung pada guru sehingga kemampuan pemecahan masalah mereka menjadi rendah (Soniawati, 2022). Selain itu, pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan rumus menyebabkan siswa kesulitan ketika menghadapi soal yang berbeda dari contoh yang diberikan guru.

Permasalahan tersebut diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional (OECD, 2023). Banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan nyata karena soal tersebut membutuhkan kemampuan memahami masalah dan menentukan strategi penyelesaian yang tepat. Hasil penelitian Soniawati (2022) menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami masalah hanya mencapai 49%, kemampuan membuat rencana 23%, dan kemampuan memeriksa kembali jawaban hanya 9%. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih perlu ditingkatkan.

Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia masih memerlukan perbaikan, terutama dalam penggunaan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif. Guru perlu menerapkan model pembelajaran yang dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah matematis secara optimal.

Sebagai upaya mengatasi kendala tersebut, model Problem-Based Learning (PBL) muncul sebagai salah satu solusi yang dianggap efektif. Model ini menempatkan masalah nyata sebagai pusat pembelajaran, sehingga siswa didorong untuk berpikir kritis, mencari informasi secara mandiri, serta berkolaborasi dalam kelompok. PBL difokuskan pada pemecahan masalah otentik guna mengasah ketajaman berpikir dan kemampuan strategis siswa dalam matematika (Siddik et al., 2025).

Problem-Based Learning memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, penggunaan masalah kontekstual, kerja sama kelompok, dan proses penyelidikan untuk menemukan solusi. Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa selama proses pembelajaran berlangsung. PBL dianggap efektif karena siswa dapat melakukan pencarian solusi dan pemecahan masalah secara mandiri sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (Zetriuslita & Riyanti, 2026). Selain itu, model PBL juga mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran matematika.

Penerapan PBL dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan melalui diskusi kelompok dan pemberian masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa diminta menyelesaikan masalah tentang perhitungan luas tanah, pengelolaan keuangan sederhana, atau permasalahan data statistik yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata. Melalui kegiatan tersebut, siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Zakiyah (2023) menyatakan bahwa model pembelajaran PBL mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah yang mereka hadapi secara mandiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Problem-Based Learning memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di tingkat SMP (Arfiani & Rismen, 2025). Selain itu, siswa yang belajar menggunakan model PBL memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional (Nasution & Siregar, 2026). Penelitian Zetriuslita & Riyanti (2026) juga menunjukkan bahwa model PBL memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan demikian, Problem Based Learning dapat menjadi solusi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Secara keseluruhan, tantangan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis di Indonesia memerlukan transformasi dalam metode instruksional. Kondisi di mana siswa sering kesulitan memahami soal atau menentukan strategi penyelesaian sering kali berakar pada proses belajar yang terlalu pasif. Dengan mengintegrasikan model pembelajaran yang lebih dinamis seperti PBL, siswa tidak hanya dilatih secara teknis, tetapi juga secara mental untuk menjadi pemecah masalah yang mandiri dan kolaboratif.

Problem-Based Learning menjadi salah satu model pembelajaran yang relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa dilatih untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Problem-Based Learning mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP secara signifikan.

Oleh karena itu, penerapan Problem-Based Learning diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pembelajaran matematika di Indonesia. Dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat, siswa tidak hanya mampu memahami konsep matematika, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arfiani, V., & Rismen, S. (2025). Penerapan Model Problem Based Learning ( PBL ) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik Kelas VIII SMP. 9(September), 61–75.

Nasution, F. M., & Siregar, B. H. (2026). Efektivitas Problem Based Learning Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP Pada Materi Persamaan Garis Lurus Efektivitas Problem Based Learning Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP Pada Materi P. 6(1), 147–156.

OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing. OECD PISA 2022 Results

Panjaitan, H. (2023). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Siswa Kelas VIII SMP Jendral Sudirman Medan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 1(3), 171–177. 

Risa Endah Zakiyah, Dudung Suryana, & Zulkarnaen, R. H. (2023). Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). JURNAL BASICEDU, 7(3), 1852–1861. 

Siddik, M., Asy-Syifa, N., & Ginting, N. (2025). Analisis Model Pbl (Problem Based Learning) Dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Di Kelas IX Smpn 27 Medan. Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(4), 1896–1909. 

Siswanto, E., & Meiliasari, M. (2024). Kemampuan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Matematika: Systematic Literature Review (Problem-Solving Skills in Mathematics Learning: Systematic Literature Review). Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Sekolah, 8(1), 45–59.

Soniawati, S. (2022). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Cibinong Materi Bentuk Aljabar Dengan Problem Based Learning. Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif, 5(5), 1341–1350. 

Zetriuslita, & Riyanti, N. F. (2026). Pengaruh Model Problem-Based Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik. Jurnal Perspektif Pendidikan Dan Keguruan, 17(1), 23–33.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *