Pendahuluan
Siapa yang berhak menentukan apa yang layak disebut “sastra sejati”? Apakah bacaan yang laku di pasaran otomatis menjadi karya yang dangkal? Dan apakah membaca novel romantis, fantasi, atau cerita viral di media sosial berarti kita bukan pembaca yang serius? Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergema di tengah perdebatan panjang antara sastra populer dan sastra serius—sebuah dikotomi yang sering kali diwarnai sikap eksklusif atau yang biasa disebut sebagai gatekeeping: upaya sekelompok orang membatasi akses dan pengakuan terhadap bentuk sastra yang tidak sesuai dengan standar yang mereka buat sendiri.
Di tengah tren budaya membaca yang semakin beragam—mulai dari membaca di aplikasi digital, komunitas buku daring, hingga rekomendasi dari media sosial—perdebatan ini menjadi semakin mendesak. Data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan bahwa hanya sekitar 13,96% masyarakat Indonesia yang menjadikan buku cerita fiksi sebagai bacaan rutin, sementara bacaan lain mendominasi. Di saat kita berusaha memperluas jangkauan literasi, justru masih ada sekat-sekat buatan yang membuat calon pembaca enggan melangkah lebih jauh. Artikel ini menyajikan pandangan bahwa perbedaan antara sastra populer dan sastra serius bukanlah alasan untuk saling menyingkirkan; sebaliknya, kita harus berhenti melakukan gatekeeping demi membangun ekosistem literasi yang lebih inklusif, beragam, dan hidup.
Apa Itu Sastra Populer dan Sastra Serius?
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bagaimana kedua kategori ini didefinisikan—dan bagaimana batasannya semakin kabur seiring waktu. Secara tradisional, perbedaan keduanya sering dijelaskan melalui sejumlah indikator, seperti yang dikemukakan oleh kritikus sastra Jakob Sumardjo: sastra populer lebih mengutamakan hiburan, alur cerita yang mudah diikuti, dan bahasa yang mengikuti tren masa kini; sedangkan sastra serius (sering disebut juga sastra adiluhung atau sastra tinggi) lebih menekankan kedalaman pemikiran, eksplorasi kemanusiaan, kebaruan bentuk ekspresi, dan relevansi lintas generasi.
Namun, definisi ini bukanlah garis batas yang kaku. Budi Darma, salah satu kritikus sastra terkemuka Indonesia, mengingatkan bahwa sastra yang baik seharusnya memiliki dua sifat sekaligus: dulce et utile—menyenangkan sekaligus bermanfaat. Banyak karya yang awalnya dianggap sastra populer kemudian diakui sebagai karya yang bernilai tinggi, begitu pula sebaliknya.
Sastra populer merujuk pada karya yang dirancang untuk menjangkau pembaca seluas mungkin, mengikuti selera pasar, dan sering kali mendapatkan popularitas cepat melalui penjualan yang tinggi atau penyebaran di platform digital. Contohnya adalah novel petualangan, romansa, fantasi, atau cerita yang pertama kali muncul di platform seperti Wattpad sebelum diterbitkan secara luas. Sementara itu, sastra serius biasanya mendapatkan pengakuan melalui penghargaan sastra, kajian akademis, dan masuk ke dalam kurikulum pendidikan, dengan gaya bahasa dan struktur yang lebih kompleks serta membutuhkan upaya lebih untuk dicerna.
Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan ini berubah menjadi hierarki: satu jenis dianggap lebih mulia, lebih berharga, dan lebih “benar” daripada yang lain. Di sinilah gatekeeping mulai berperan.
Gatekeeping dalam Dunia Sastra: Asal-Usul dan Bentuknya
Istilah gatekeeping awalnya muncul dalam studi komunikasi untuk menggambarkan proses penyaringan informasi sebelum disampaikan kepada publik—siapa yang memilih, apa yang dipilih, dan mengapa hal-hal lain disisihkan. Dalam dunia sastra, gatekeeping dilakukan oleh berbagai pihak: penerbit besar, kritikus sastra, akademisi, kurator penghargaan, hingga kelompok pembaca yang menganggap diri mereka lebih paham tentang sastra.
Secara historis, pola ini sudah ada sejak masa kolonial di Indonesia. Hilmar Farid mencatat bahwa Balai Pustaka—lembaga penerbitan bentukan pemerintah Hindia Belanda—pernah menetapkan standar tertentu tentang apa yang layak diterbitkan sebagai sastra “resmi”, sementara karya-karya seperti roman picisan atau tulisan penulis peranakan Tionghoa disisihkan dan bahkan dihapus dari catatan sejarah sastra resmi. Pola serupa masih terasa hingga kini: karya yang tidak sesuai dengan selera elit sastra sering kali dianggap tidak penting, sekadar hiburan sesaat, atau bahkan merusak selera baca masyarakat.
Bentuk gatekeeping saat ini terlihat dari berbagai sikap:
- Menganggap pembaca sastra populer adalah pembaca yang belum matang atau tidak memiliki selera yang baik.
- Menolak membahas karya yang laku di pasaran dalam forum diskusi sastra atau kajian akademis.
- Menyatakan bahwa karya yang lahir dari platform digital tidak layak disebut sastra sejati.
- Mengukur kualitas karya hanya dari seberapa jauh ia menyimpang dari standar yang sudah ada, bukan dari apa yang disampaikannya kepada pembaca.
Padahal, seperti yang dikemukakan dalam penelitian Childress dan Nault (2019), gatekeeping tradisional cenderung lebih menyukai karya yang memiliki latar belakang budaya mirip dengan para penyeleksinya, sehingga menyisihkan suara-suara baru dan beragam—termasuk cerita yang lahir dari pengalaman kelompok pinggiran, penulis muda, atau genre yang selama ini dianggap “bukan sastra”.
Mengapa Gatekeeping Tidak Lagi Relevan?
Ada tiga alasan utama mengapa sikap memilah dan menolak bentuk sastra tertentu justru merugikan perkembangan budaya membaca kita.
1. Batas Antara Dua Dunia Semakin Kabur
Banyak karya sastra serius yang kita puja saat ini dulunya adalah bacaan populer di masanya. Drama Shakespeare dulunya ditampilkan untuk penonton dari berbagai lapisan masyarakat, bukan sekadar untuk kalangan cendekiawan; novel klasik seperti Don Quixote atau karya Jane Austen juga lahir sebagai cerita yang disukai pembaca umum. Sebaliknya, karya yang saat ini dianggap populer sering kali menyimpan kedalaman tema yang sama pentingnya dengan sastra serius: novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mengangkat ketimpangan pendidikan; seri Bumi karya Tere Liye mengajak pembaca memikirkan keberagaman dan keberanian; sementara cerita dari platform digital seperti Geez & Ann atau Critical Eleven menyentuh dinamika hubungan manusia yang universal.
Perbedaan antara kedua jenis sastra lebih terletak pada cara penyampaiannya, bukan pada kemanfaatannya. Sastra populer membuka pintu bagi banyak orang untuk jatuh cinta pada membaca, sementara sastra serius mengajak pembaca yang sudah terbiasa untuk mendalami pemikiran lebih jauh—keduanya saling melengkapi, bukan saling bersaing.
2. Era Digital Telah Mengubah Cara Kita Memproduksi dan Menikmati Sastra
Dulu, akses ke penerbitan sangat terbatas dan bergantung pada persetujuan pihak tertentu. Kini, platform digital memungkinkan siapa saja menulis dan membagikan karyanya, serta pembaca memilih apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tren di media sosial seperti BookTok atau rekomendasi komunitas daring membuktikan bahwa pembaca sendiri yang kini menjadi penentu apa yang berarti bagi mereka—bukan lagi sekadar keputusan segelintir kritikus.
Namun, kemudahan ini juga sering dijadikan alasan untuk meremehkan: “karena mudah diterbitkan, maka isinya pasti rendah”. Padahal, demokratisasi akses bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan memperluas peluang bagi suara yang selama ini tidak didengar. Penulis muda, penulis dari daerah terpencil, atau mereka yang mengangkat tema yang kurang diminati penerbit besar kini bisa menjangkau pembaca langsung—hal ini justru memperkaya khazanah sastra kita.
3. Gatekeeping Menghambat Pertumbuhan Budaya Literasi Secara Keseluruhan
Sikap meremehkan bacaan seseorang sama dengan meremehkan langkah awal mereka dalam dunia literasi. Remaja yang mulai gemar membaca lewat cerita fantasi, ibu rumah tangga yang menikmati novel romansa di waktu luang, atau pekerja yang membaca cerita pendek dalam perjalanan pulang—mereka semua sedang membangun kebiasaan yang berharga. Jika mereka terus-menerus mendengar bahwa apa yang mereka baca “tidak berguna”, mereka berisiko berhenti membaca sama sekali.
Dalam konteks Indonesia yang masih berjuang meningkatkan minat baca, sikap ini sungguh ironis. Kita membutuhkan sebanyak mungkin orang yang mau membaca—apa pun jenisnya—sebelum kita mempersoalkan apa yang mereka baca. Nilai sebuah buku tidak ditentukan oleh label yang ditempelkan padanya, melainkan oleh apa yang bisa ia berikan bagi pembacanya: penghiburan, wawasan, pemahaman baru, atau sekadar ruang untuk beristirahat sejenak dari kenyataan.
Menuju Budaya Membaca yang Lebih Inklusif: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Berhenti melakukan gatekeeping bukan berarti menghapus standar kualitas atau tidak boleh berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan sebuah karya. Justru, kita beralih dari sikap “ini benar dan itu salah” menuju sikap “apa yang bisa kita pelajari dari berbagai cara bercerita?”. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kita ambil bersama:
Mulai dari Pertanyaan yang Berbeda
Alih-alih bertanya “Mengapa kamu membaca buku itu?”, mari kita tanya “Apa yang paling kamu sukai dari buku itu?” atau “Apa yang membuatmu teringat pada kehidupanmu saat membacanya?”. Ini akan mengubah percakapan dari penghakiman menjadi berbagi pengalaman—yang merupakan inti dari sastra itu sendiri.
Menghargai Peran Berbagai Jenis Sastra
Kita perlu mengakui bahwa sastra populer memiliki fungsi yang tidak bisa digantikan oleh sastra serius: ia menjangkau pembaca baru, mencerminkan selera dan perasaan masa kini, serta menjaga agar cerita tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat. Sebaliknya, sastra serius membantu kita mempertanyakan hal-hal yang kita anggap sudah pasti, memperdalam empati, dan melestarikan cara berpikir yang kompleks.
Mengubah Cara Kita Mengajarkan dan Mempromosikan Sastra
Di sekolah maupun ruang diskusi umum, kita bisa memadukan keduanya: membandingkan bagaimana tema yang sama diangkat dalam novel laris dan dalam karya sastra yang lebih eksperimental, melihat bagaimana satu memengaruhi yang lain, serta mendorong pembaca untuk berani menjelajah ke berbagai genre. Kita juga perlu menyadari bahwa karya yang dianggap “serius” pun bisa menjadi populer jika disajikan dengan cara yang menarik—seperti yang dilakukan oleh komunitas buku yang mengemas diskusi sastra klasik dengan gaya yang santai dan akrab.
Menjadi “Pembuka Pintu”, Bukan “Penjaga Gerbang”
Alih-alih menutup akses, mari kita berperan sebagai jembatan: jika ada pembaca yang baru mulai dari cerita ringan, kita bisa mengajaknya mengenal karya yang lebih beragam secara bertahap; jika ada penulis yang karyanya populer namun sering diabaikan, kita bisa mengajaknya berdiskusi tentang kedalaman tulisannya; jika ada karya baru yang berbeda dari kebiasaan kita, mari kita baca dulu sebelum memberikan penilaian.
Penutup
Sastra pada akhirnya adalah percakapan tak berakhir tentang diri kita, tentang sesama manusia, dan tentang dunia tempat kita hidup. Percakapan ini tidak akan berjalan baik jika kita membatasi siapa yang boleh berbicara dan apa yang boleh didengar. Perbedaan antara sastra populer dan sastra serius adalah kekayaan yang patut kita syukuri, bukan alasan untuk saling memisahkan.
Dengan berhenti melakukan gatekeeping, kita tidak sedang menurunkan standar sastra—sebaliknya, kita sedang memperluas rumah bagi sastra itu sendiri. Kita sedang membangun budaya membaca yang menerima keberagaman, menghargai setiap langkah pembaca, dan percaya bahwa setiap cerita memiliki tempatnya di hati seseorang.
Apakah Anda setuju bahwa batas antara sastra populer dan serius semakin tidak jelas? Pernahkah Anda merasa bacaan Anda dinilai kurang layak oleh orang lain? Atau justru Anda memiliki pandangan bahwa standar kualitas tetap perlu dijaga dengan ketat? Mari kita berdiskusi dengan santun di kolom komentar di bawah ini—karena diskusi yang sehat dimulai dari keinginan untuk mendengar, bukan sekadar ingin benar.
Daftar Pustaka
Ateh, S. (2024). Cultivating literary literacy in the era of algorithms, automation, and artificial intelligence. Jurnal Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen, 9(1), 45–58. https://jurnal.umnu.ac.id/index.php/jrk/article/view/1811
Badan Pusat Statistik. (2025). Pola kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2025. Jakarta: Badan Pusat Statistik. https://bacaini.id/bps-2025-kitab-suci-bacaan-terpopuler-indonesia/
Childress, C., & Nault, J. (2019). Cultural matching and gatekeeping in publishing. Journal of Cultural Economy, 12(4), 412–428. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/20563051241286700
Farid, H. (1991). Kolonialisme dan budaya: Balai Poestaka di Hindia Belanda. Prisma, 20(8), 3–18. https://tengara.id/esai/simpang-siur-batas-sastra-pop-di-indonesia/
Munene, H. (2025). Popular and serious literature are two sides of the same coin. Redis01. https://redis01.catx.io/business/amp/opinion/article/2001533739/popular-and-serious-literature-are-two-sides-of-the-same-coin
Prasetyo, B., & Wati, R. (2022). Digitalisasi sastra Indonesia: Demokratisasi akses atau dehumanisasi pembacaan? Onoma: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 89–102. https://e-journal.my.id/onoma/article/view/5902
Shoemaker, P. J., & Vos, T. P. (2009). Gatekeeping theory. New York: Routledge. https://en.wikipedia.org/wiki/Gatekeeping_(communication)
Sumardjo, J. (2025). Pengertian sastra populer: Sejarah, ciri, dan perbedaannya dengan sastra adiluhung. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-sastra-populer/
Artikel ini berisi pandangan penulis dan terbuka untuk diskusi beragam perspektif demi kemajuan budaya literasi bersama.
